Lewati ke konten utama

RIAU KAYA, TAPI RAKYATNYA DIBUAT LUKA

Oleh Wira Wirawan

20 Oktober 2026 pukul 15.46 WIB2 menit baca80 dibaca

Bagikan
RIAU KAYA, TAPI RAKYATNYA DIBUAT LUKA

“Apakah negeri Riau ini sudah tergadaikan?

Atau memang sengaja dibiarkan pelan-pelan kehilangan harga dirinya?

Kita hidup di negeri yang kaya. Tanahnya kaya. Minyaknya ada. Sawitnya luas. Hasil buminya melimpah. Tapi anehnya, di negeri sekaya ini, rakyatnya masih banyak yang hidup susah. Masih banyak yang cuma jadi penonton di tanahnya sendiri. Ini ironi, ini luka, dan ini tamparan untuk siapa pun yang mengaku sedang mengurus Riau.

Lalu ke mana para pemimpin yang dulu datang dengan janji? Ke mana wakil rakyat yang dulu sibuk minta dipilih? Hari ini apa yang mereka kerjakan? Apa yang mereka perjuangkan? Rakyat tidak butuh baliho, rakyat tidak butuh pidato manis. Rakyat butuh pekerjaan. Rakyat butuh kepastian. Rakyat butuh keberpihakan.

Pekanbaru katanya kota bertuah. Kota Madani. Tapi kenapa begitu banyak persoalan yang tak kunjung selesai? Kenapa wajah kota ini seperti kehilangan arah? Di mana budaya Melayu yang dulu dijunjung? Di mana marwah yang dulu dibanggakan? Jangan sampai yang tersisa cuma slogan, sementara ruh negerinya perlahan hilang.

Setiap tahun anak-anak Riau lulus sekolah, lulus kuliah, jadi sarjana. Mereka pulang membawa harapan. Tapi negeri ini seperti tidak pernah benar-benar menyiapkan tempat untuk mereka. Mau kerja ke mana? Mau berkarya di mana? Di tanah sendiri saja mereka seperti orang asing. Tidak diberi ruang, tidak diberi kesempatan, lalu dipaksa mengerti keadaan.

Katanya Riau pusat jasa dan perdagangan. Tapi kenapa tenaga kerja tak terserap? Katanya UMKM dibina. Tapi kenapa nasib mereka terus digantung? Setiap ada kegiatan pemerintah, UMKM cuma dijadikan pajangan program. Setelah acara selesai, mereka ditinggal lagi dengan modal yang pas-pasan, pasar yang sempit, dan harapan yang makin tipis.

Belum lagi persoalan para elite yang membuat rakyat muak dan bingung. Rakyat terus disuruh percaya, sementara yang terlihat justru kekacauan, ketidakjelasan, dan kegaduhan yang tak pernah benar-benar berpihak kepada nasib orang kecil.

Maka wajar kalau rakyat bertanya: apakah negeri ini sedang dipimpin dengan hati, atau hanya dipakai untuk kepentingan sesaat?

Jalan rusak di mana-mana, peluang kerja sempit, investasi enggan datang, anak muda pergi meninggalkan kampung halaman, dan suara mahasiswa pun mulai sunyi. Lalu siapa yang akan bicara untuk Riau? Siapa yang masih berani berdiri dan berkata bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja?

Riau ini bukan negeri miskin.  

Tapi kalau kekayaannya terus dibawa pergi, kalau rakyatnya terus disuruh diam, kalau pemimpinnya hanya pandai bicara tanpa keberanian membela, maka yang hancur bukan cuma ekonomi kita…

yang hancur adalah harga diri negeri ini.  

Dan kalau hari ini kita masih diam,  

maka jangan heran kalau besok anak cucu kita cuma mewarisi tanah yang kaya…  

tapi hidup sebagai penonton di negeri sendiri.”

Pewarta: Wira Wirawan

Copyright © 2026 Signal Nusantara

Bagikan

Komentar (0)

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberi komentar.

Tulis Komentar

Iklan
Contoh Iklan Dalam Artikel

Berita Terkait

Lihat semua
Contoh Iklan Mobile Sticky