Mayoritas Mata Uang Asia Menguat Terhadap Dolar AS pada Selasa
Oleh CNBC Indonesia
22 Oktober 2026 pukul 22.37 WIB2 menit baca6 dibaca
Sebagian besar nilai tukar di kawasan Asia menunjukkan pergerakan positif berhadapan dengan dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari Selasa, 20 Oktober 2026.
Berdasarkan pantauan data Refinitiv pukul 09.18 WIB, enam dari sepuluh mata uang terpantau mengalami apresiasi, sementara empat lainnya mencatatkan pelemahan.
Won Korea Selatan memimpin penguatan tertinggi sebesar 0,38% hingga mencapai level KRW1.327,03/US$. Sementara itu, rupiah ikut berbalik menguat sebesar 0,15% ke posisi Rp18.003/US$ setelah sebelumnya berada di zona negatif.
Penguatan juga dialami oleh dolar Singapura sebesar 0,05%, dong Vietnam 0,04%, yuan China 0,03%, serta yen Jepang yang naik tipis 0,01%.
Sebaliknya, tekanan terdalam dialami oleh dolar Taiwan dengan koreksi sebesar 0,24%. Penurunan turut dialami peso Filipina sebesar 0,11%, baht Thailand 0,03%, dan ringgit Malaysia 0,01%.
Tertahannya laju penguatan dolar AS turut memengaruhi dinamika regional ini. Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,06% ke angka 101,914, sehari setelah sempat mencatatkan kenaikan sekitar 0,20% ke level 101,98.
Sentimen pasar turut didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap instrumen berisiko, yang memicu permintaan kembali pada mata uang berimbal hasil lebih tinggi.
"Pasar valuta mencerminkan membaiknya selera risiko, dengan mata uang berimbal hasil lebih tinggi kembali diburu," ujar Chris Weston, kepala riset Pepperstone Group, dikutip dari Reuters.
Kendati demikian, dolar AS masih bertahan di atas level 101 di tengah bayang-bayang ketidakpastian politik di Eropa, khususnya situasi unjuk rasa antipemerintah di Prancis yang membuat pihak berwenang menerapkan jam malam di beberapa kota.
Situasi tersebut berdampak pada pasar obligasi Prancis, di mana selisih imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun dengan obligasi Jerman melebar 9,9 basis poin menjadi 147,3 basis poin pada hari Senin.
"Risiko obligasi pemerintah Prancis jelas mulai diperhitungkan di pasar saham Eropa, tetapi ketahanan euro menunjukkan pelaku pasar belum melihatnya sebagai masalah sistemik bagi Eropa," kata Weston.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun terpantau stabil pada kisaran 5,131%. Adapun yuan China menguat tipis menyusul langkah People's Bank of China (PBoC) yang mempertahankan suku bunga acuan sesuai proyeksi pasar.
Sumber: CNBC Indonesia
Pewarta: CNBC Indonesia
Copyright © 2026 Signal Nusantara